Sejarah Desa Namang

Pada zaman Sriwijaya, Desa Namang merupakan tempat persinggahan orang dari Permis Kecamatan, Sungaiselan, dan Toboali yang hendak ke Pangkal Pinang dan ke Koba (yang sekarang disebut Simpang 3 Namang). Di Simpang 3 Namang dulunya terdapat sebatang pohon kayu yang besar bernama kayu namang (ramin), di bawah kayu tersebut tinggal seorang pemuda yang baik. Setiap orang yang singgah di bawah pohon tersebut untuk beristirahat selalu menghidangkan air dan makanan sambil mengatakan NA MANG. "NA" adalah kata yang digunakan masyarakat bangka untuk memberi dan "MANG" adalah panggilan untuk orang yang lebih tua.